Right Button

test
SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI MATA TINTA NUSANTARA

Kepsek SDN 33 Rawang Bantah Dugaan Bullying, Tegaskan Tak Ada Kejadian Saat Proses Belajar

Kepala SDN 33 Rawang Padang 
Siptahayadi, S. Pd

Padang | MT.com – Kepala SDN 33 Rawang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Siptahayadi, S.Pd, membantah tudingan adanya perundungan (bullying) di lingkungan sekolah yang dikaitkan dengan meninggalnya seorang siswa kelas III B yang berinisial Nailah Adilah

Siptahayadi menjelaskan, berdasarkan hasil penelusuran internal, proses belajar mengajar pada hari Senin, 20 Juli 2026 terakhir korban masuk sekolah berjalan normal tanpa adanya kejadian yang mengarah pada tindakan perundungan.

"Sejak pagi hingga pulang sekolah, kegiatan belajar berlangsung seperti biasa. Tidak ada laporan maupun kejadian yang mencurigakan selama proses pembelajaran," ujar Siptahayadi saat ditemui Matatinta Nusantara.com di sekolah, Senin, 27/07/26.

Ia mengungkapkan, setelah pulang sekolah, korban berada di rumah. Keesokan harinya, orang tua korban berinisial Wahid datang ke sekolah untuk meminta izin karena anaknya sakit. Dua hari kemudian, orang tua kembali menghubungi wali kelas dan meminta izin agar saudara kembar korban tidak masuk sekolah untuk menemani sang kakak yang masih sakit.

"Selama dua kali orang tua korban minta  izin  tidak pernah ada penyampaian kepada guru bahwa anak diduga menjadi korban bullying. Informasi tersebut baru kami terima setelah korban meninggal dunia," katanya.

Menurut Siptahayadi, pihak sekolah langsung meminta klarifikasi kepada wali kelas, siswa yang disebut-sebut sebagai pelaku, serta sejumlah teman sekelas korban. Dari keterangan yang diperoleh, seluruhnya menyatakan tidak mengetahui adanya tindakan perundungan pada hari korban terakhir mengikuti pelajaran.

"Keterangan mereka sama, tidak ada kejadian seperti yang beredar. Bahkan tidak ada laporan korban maupun siswa lain yang meminta izin keluar kelas karena ada masalah," ujarnya.

Terkait foto yang beredar di media sosial yang memperlihatkan adanya perubahan warna pada bagian punggung korban, Sipthayadi mengaku telah meminta penjelasan dari tenaga medis. Berdasarkan informasi yang diterimanya, perubahan warna tersebut diduga merupakan proses alami pada jenazah setelah meninggal dunia, bukan serta-merta akibat benturan benda tumpul.

Meski demikian, ia menegaskan pihak sekolah menyerahkan sepenuhnya proses pembuktian kepada aparat kepolisian.

"Kami mendukung penyelidikan agar penyebab sebenarnya bisa terungkap. Kalau memang ada kesalahan dari pihak sekolah tentu akan kami pertanggung jawabkan. Namun sampai saat ini kami belum menemukan bukti adanya bullying di sekolah," katanya.

Siptahayadi juga mengaku para guru merasa terpukul dengan tudingan yang berkembang di media sosial. Bahkan, beberapa guru disebut mengalami tekanan psikologis akibat pemberitaan yang beredar.

Ia berharap proses hukum dapat berjalan objektif sehingga tidak muncul kesimpulan sepihak sebelum hasil penyelidikan resmi diumumkan.

Sementara itu, Ketua Komite kelas SDN 33 Rawang, Nur Afni (40), mengatakan selama ini dirinya hampir setiap hari berada di lingkungan sekolah dan tidak pernah menemukan praktik perundungan terhadap siswa.

"Saya hampir setiap hari berada di sekolah. Sepengetahuan saya tidak ada kejadian bullying seperti yang dituduhkan," ujarnya.

Pihak sekolah pun mengimbau masyarakat untuk menunggu hasil penyelidikan kepolisian dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun merugikan pihak tertentu.

Editor : Bunga

Posting Komentar

0 Komentar